|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 July, 2008
|
Demokrasi Weleh-weleh
Kita semua tengah dikepung. Kemanapun kaki melangkah akan menghadapinya. Kapanpun kita hadir, ia bak siluman akan muncul serta merta. Walaupun begitu, siapapapun harus kuat dan tahu cara menyiasatinya. KETIKA mata terbuka pertama kali di pagi hari, rasa tidak percaya diri seringkali menyerigai. Angin pagi nan semilir dan bersih seolah tak berarti. Kokok ayam di sebelah rumah dan nyanyian burung-burung kecil seolah ternafikan. Matahari dengan sinarnya yang lembut dan bersahabat juga terabaikan. Konsentrasi lebih tertuju: Tragedi apa hari ini. Apa yang akan terjadi dalam perjalanan ke kantor? Dimana dan jam berapakah demo-demo akan marak? Bagaimana menghindari aneka kerawanan jalanan? Jalan tikus mana lagi yang akan dilewati? Dan lain sebagainya. Itulah gambaran umum pikiran orang ibukota di pagi hari. Sumpeg, ruwet bin kusut. Kekerasan campur kekesalan adalah hantu yang tidak pernah absen meski di siang bolong. Ia hidup bukan di kuburan kuno nan kumuh. Ia membesar bukan di pohon beringin yang rimbun. Ia menjadi dewasa bukan di pinggiran sungai nan sepi. Kekerasan justru sering lahir di era demokrasi, merebak di perumahan-perumahan elit, membesar di jalan-jalan protokol dan kampus, serta mencapai akil balig di dekat pusat-pusat kekuasaan. Berita televisi di pagi buta, tanpa mengucap salam langsung menyuguhkan aneka kekerasan yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Kegiatan transendental yang mestinya penuh kekhusuan terusik aneka gambar pemerkosaan dan pembunuhan yang sadis. Bahkan, saat kaki baru melangkah beberapa meter keluar dari rumah, para penjaja koran sudah siap mengucapkan selamat pagi di muka kita dengan headline yang menakutkan: demo yang rusuh, penangkapan hingga perceraian selebritis.
Media massa yang menjadi salah satu alat penegakan demokrasi, telah berperan penting dalam mentransformasikan keberingasan tersebut. Sesuai dengan konsep “ bad news is a good news”, melelehlah di layar kaca aneka macam darah akibat pembunuhan, penganiayaan, demonstrasi. Bahkan, terdengar setiap hari aneka umpatan dan penistaan terhadap manusia lain dengan kata-kata yang kasar, sadis dan menjijikkan. Anehnya juga, sang nara sumber dengan bangganya ketika di close up berteriak: tulis pernyataan saya itu…, saya tidak takut…., ini menyangkut prinsip dan harga diri, dan seabreg kata keras lainnya. Tawuran sering terjadi sehabis perhelatan layar tancap dan pertunjukan dangdut. Itu jelas cerita jadul. Kini, hajatan demokrasi banyak yang menyisakan residu mulai silat lidah, kemarahan, teriakan, umpatan, adu jotos, tinju sampai full body contact. Pemilu dari yang level nasional, pilkada propinsi, kabupaten hingga kelurahan, tidak seru kalau tidak diakhiri dengan aneka “silat”. Kegiatan saling tuding dan merasa benar sendiri menjadi hal yang lumrah. Sementara lembaga pelerai kadang dibuat tidak berdaya. Kekerasan dalam arti yang lebih sempit juga menjadi lahapan media massa. Korupsi misalnya, senantiasa menghiasi halaman depan. Terpampang, para pengawal penegak hukum senantiasa terlihat mantap mengiringi para pesakitan yang digiring ke hotel prodeo. Di hari lain, ada mantan penegak hukum yang juga disorong menuju meja hijau. Adapula bos yang kelihatannya membela kepentingan rakyat, kemudian terbukti menunggangi rakyat. Semua rekaman kehidupan itu, secara sengaja atau tidak, menjadi lauk pauk kita saat makan pagi, makan siang dan makan malam, bahkan sewaktu sahur. Kemanapun pergi, kita akan bertemu dengan kekerasan tanpa kecuali, karena ratusan media elektronik (televisi, radio, internet, email) dan ribuan media cetak ada dimana mana. Bahkan saat kita bermacet ria-pun masih disuguhi gambar adu jotos yang dijajakan para pengecer koran dan berkumandang diantara radio yang kita pilih. Belum lagi kalau bicara tentang kekerasan yang sudah jamak. Naik kereta kecopetan. Naik bus kota dijambret. Bahkan, di tempat suci seperti masjid pun banyak maling yang terus mengintip sepatu dan sandal bermerek. Sekali sholat terlalu khusu’, wes….sepatu menghilang. Harus direlakan biar jadi pahala. Jujur saja, kita semua terlalu sulit untuk mencari ruang untuk bisa damai. Kecemasan dan kekerasan terus menghantui setiap langkah, berada di depan mata kita, bergaung keras di telinga kita dan siap muncul di setiap sudut kehidupan. Terlepas promosi Indonesia sebagai salah satu negara demokratis terbesar di dunia, apabila setiap hari kekerasan itu selalu muncul di media massa, perlu ditanyakan dimana kesantunan bangsa ini. Apakah demokrasi mengesahkan kekerasan atas nama rakyat? Apakah kekerasan harus dijalankan sebagai konsekuensi vox populi vox dei? Apakah kekerasan diajarkan untuk membela sebuah keyakinan? Bukankah kita punya budaya musyawarah? Apakah kekerasan harus dilakukan bila akhirnya menyengsarakan rakyat? Apakah kekerasan ini ekses atau habit? Masih banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan tanpa ada jawaban yang kongkrit.
Karena
demokrasi pula, akhirnya kekerasan bisa disulap menjadi komoditi yang
lain. Salah satu stasiun televisi menghadirkan parodi plesetan demokrasi
menjadi democrazy. Sang Wapres, Kelik, sungguh mahir
memutarbalikkan kata kepada kenyataan yang riil. Kekuatan penayangan
guyonan politik ini pada galibnya memang didukung oleh sebuah kenyataan
sosial tentang mulai pudarnya nilai santun. Akibatnya, para pemirsa yang
budiman menjadi muak terhadap idealita dan lebih suka memparodikannya.
Ini juga yang menyebabkan si Tukul dengan four eyes-nya sempat
nongkrong di rating tertinggi selama berbulan-bulan. Apa boleh
buat, plesetan demokrasi bisa lebih populer dibanding pelaksanaan
demokrasi.
Orangpun dengan sinis bilang: “Inilah demokrasi
weleh-weleh”.
|