|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
MEMULAIi usaha tidaklah semudah membalik telapak tangan. Modal pengalaman kerja bertahun-tahun dan keterampilan bukan jaminan bisa meraup untung dengan segera. Begitu pula dengan yang mewarisi perusahaan keluarga. Tidak serta-merta langsung mudah melanjutkan usaha yang sudah ada. Berikut ini adalah kisah tiga pengusaha UKM yang sukses, yakni perusahaan sepatu Edward Forrer, industri tas Elizabeth, dan PT Batik Danar Hadi. Lika-liku perjuangan mereka boleh berbeda satu sama lain, tapi ada benang merah yang patut disimak. Mereka berangkat dari pengusaha kecil yang berkembang menjadi pengusaha jempolan. Tertarik mempelajari kiat-kiat mereka? MERINTIS USAHA DENGAN JEMPUT BOLA
Berbekal pengalaman dan keahlian membuat sepatu yang didapat selama bertahun-tahun bekerja pada sebuah perusahaan sepatu, ia membuka usaha sendiri pada pertengahan September 1989. Ia berkeliling mengayuh sepeda, menawarkan jasa membuat sepatu dari pintu ke pintu. Untuk menarik pembeli, pria yang menjadi tulang punggung keluarga ini membawa beberapa contoh sepatu. Keahlian menggambar Edo memungkinkan ia membuat sketsa sepatu sesuai dengan pesanan pembeli, tepat di hadapan mereka. Semua sepatu hasil karyanya diberi label sesuai dengan namanya: Edward Forrer. Sepatu Edo tidak jarang dicela. Karena memakai cara door to door, betulbetul mengetuk setiap pintu rumah, Edo seringkali mendapat perlakuan tak ramah, bahkan pernah diusir. Meski sempat putus asa, ia terus bertahan sembari memberikan les matematika dan renang. Perlahan-lahan ia mulai mendapat pesanan dari orangtua murid lesnya. Edo membuktikan, seorang wiraswastawan sejati akan selalu tegar, meski jalan menuju sukses tak selalu mulus.
Di awal usaha, mereka berdua menghasilkan 3-5 tas travel berbahan plastik. Mereka menyadari, rumah di gang sempit kawasan Jalan Kebon Tangkil, Gardujati, Bandung, tak mendukung penjualan. Handoko lantas mengayuh sepeda kumbangnya, menjajakan tas tanpa merek itu ke beberapa toko di Bandung. Tenyata hasil karya mereka laku keras dan pesanan dari took mulai banyak. Nah, cerita sukses tas Elizabeth berkembang dari sini. PENGEMBANGAN PRODUK Jika pembeli sudah kenal dengan produk yang dijual, bukan berarti kerja keras berakhir. Meski jalan usaha sudah terbuka dengan adanya pesanan, rintangan yang dihadapi masih besar. Tapi, dengan keyakinan, kreativitas, dan keuletan, apa pun bisa diatasi. Kita bisa melihat buktinya dari kisah Edward Forrer (Edo). Berhubung usaha pembuatan sepatu yang digelutinyamasih terbilang kecil, Edo menangani seluruh pekerjaannya. Dari membeli bahan kulit, membuat pola, menjahit, hingga mengantarkannya pada pembeli. Mulanya, pria kelahiran 25 Oktober 1966 ini hanya mendapat order lima pasang sepatu dalam seminggu. Tapi jumlahnya mulai merangkak menjadi lima pasang dalam sehari. Kewalahan, ia pun mencari tenaga tambahan. Tahun 1992, toko kecil ‘’Edward Forrer’’ dibuka di Gang Saad, Bandung, dengan 16 perajin sepatu dan dua pegawai toko. Meskipun tokonya sudah menyediakan beragam sepatu pria dan wanita, Edo masih menerima pesanan. Dengan begitu, ia bisa mengetahui model sepatu yang sedang digemari masyarakat. Dalam beberapa tahun, Edward Forrer semakin terkenal. Wisatawan yang datang ke Bandung, jika ingin berbelanja sepatu, selalu menyempatkan mampir ke gerai Edo. Penjualan Edward Forrer pun melesat. Kisah industri tas Elizabeth tidak jauh berbeda. Dari hanya memproduksi tas travel, Handoko mengembangkan produknya ke tas sekolah, tas kantor, tas wanita, tas anak-anak, hingga dompet kosmetik. Elizabeth didaftarkan sebagai merek dagang tahun 1968 pada Ditjen Hak Cipta, Paten, dan Merek Departemen Hukum dan HAM. Itu pun setelah pria bernama asli Lie Koen Poe ini yakin produknya disukai masyarakat. Keyakinan Handoko tak meleset. Tahun 1975, karena pesanan terus berdatangan, ia pun menggandeng para perajin tas di sekitarnya. Handoko memberi mereka modal berupa satu mesin jahit, bahan tas, desain, dan model untuk dikerjakan di rumah masing-masing. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Hasilnya, tujuh tahun kemudian, Handoko dan Elizabeth keluar dari gang sempit dan membangun sebuah gerai di Jalan Otto Iskandarinata. Berlanjut dengan gerai kedua di Jalan Cihampelas pada 1996. Setahun kemudian, Handoko membangun gerai berlantai lima di Jalan Ibu Inggit Garnasih. Toko inilah menjadi satu-satunyatoko khusus tas terbesar di Bandung.
Proyek baru Diana, antara lain, menyuplai batik untuk Robert Kaufman, pemasok terbesar quilt market di Amerika. Quilt merupakan seni menyatukan bahan perca menjadi penutup tempat tidur atau sarang bantal. Sekalipun begitu, Direktur Pelaksana PT Danar Hadi itu tak melupakan lini utama bisnis keluarga, yakni tekstil dan garmen batik. Untuk pengembangan dua sektor tersebut, ia mempekerjakan enam desainer. ‘’Tantangan terbesar adalah divisi garmen perempuan karena fashion cepat berubah,’’ tutur Diana. MEMPERTAHANKAN SUKSES BISNIS Setelah berhasil membuka beberapa gerai/toko, langkah selanjutnya adalah mempertahankan sukses yang sudah diraih. Ada banyak cara untuk melakukannya. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan sistem waralaba. Pada awal 2005, Edo mulai menggunakan sistem waralaba pada perusahaan sepatunya. Dengan model bisnis seperti ini, gerai Edward Forrer berkembang kian pesat hingga Kuala Lumpur dan Sydney. Di sisi lain, usaha keluarga seperti industri tas Elizabeth dan perusahaan batik Danar Hadi masih belum beralih pada konsep waralaba. Diana selaku pimpinan Danar Hadi sedang mematangkan konsep tersebut. Pada saat ini, sang ayah masih belum menyetujui. Namun, jika saatnya tiba, Diana akan menelurkan konsep waralaba yang cocok untuk Danar Hadi.
Pasangan
Handoko dan Elizabeth dari tas Elizabeth lebih memilih menyiapkan generasi
penerus. Lima anaknya, dua putri dan tiga putra, dididik di bidang ekonomi
dan bisnis di Amerika Serikat. Mereka sekarang mulai berperan aktif
mengelola bisnis industri tas Elizabeth. Menangani manajemen, desain,
pemasaran, hingga pengembangan sumber daya manusia. Mereka pula yang
kemudian mendorong Elizabeth maju dan berkembang. ‘’Kreativitas pulalah yang
membuat bisnis ini bertahan,’’ ujar Elizabeth, seperti ditirukan Dinny
Nurhayati, Public Relations Elizabeth. Sumber: Gatra dan tulisan lain yang terkait
|