HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

FIGUR EDISI VI 2007

Dari kurcaci menjadi raksasa

Oleh: Noviyanti Nurmala

 

MEMULAIi usaha tidaklah semudah membalik telapak tangan. Modal pengalaman kerja bertahun-tahun dan keterampilan bukan jaminan bisa meraup untung dengan segera. Begitu pula dengan yang mewarisi perusahaan keluarga. Tidak serta-merta langsung mudah melanjutkan usaha yang sudah ada.

Berikut ini adalah kisah tiga pengusaha UKM yang sukses, yakni perusahaan sepatu Edward Forrer, industri tas Elizabeth, dan PT Batik Danar Hadi. Lika-liku perjuangan mereka boleh berbeda satu sama lain, tapi ada benang merah yang patut disimak. Mereka berangkat dari pengusaha kecil yang berkembang menjadi pengusaha jempolan. Tertarik mempelajari kiat-kiat mereka?

MERINTIS USAHA DENGAN JEMPUT BOLA

Untuk mendapatkan pembeli, jangan segan-segan untuk ‘’menjemput bola’’ alias mendatangi pembeli. Kisah Edward Forrer merintis usaha sepatu dengan merek yang diambil dari namanya sendiri cukup unik. Edward yang biasa dipanggil Edo memulai segalanya dengan modal tekad, sebuah mesin jahit pinjaman, dan sepeda kayuh.

Berbekal pengalaman dan keahlian membuat sepatu yang didapat selama bertahun-tahun bekerja pada sebuah perusahaan sepatu, ia membuka usaha sendiri pada pertengahan September 1989. Ia berkeliling mengayuh sepeda, menawarkan jasa membuat sepatu dari pintu ke pintu. Untuk menarik pembeli, pria yang menjadi tulang punggung keluarga ini membawa beberapa contoh sepatu. Keahlian menggambar Edo memungkinkan ia membuat sketsa sepatu sesuai dengan pesanan pembeli, tepat di hadapan mereka. Semua sepatu hasil karyanya diberi label sesuai dengan namanya: Edward Forrer.

Sepatu Edo tidak jarang dicela. Karena memakai cara door to door, betulbetul mengetuk setiap pintu rumah, Edo  seringkali mendapat perlakuan tak ramah, bahkan pernah diusir. Meski sempat putus asa, ia terus bertahan sembari memberikan les matematika dan renang. Perlahan-lahan ia mulai mendapat pesanan dari orangtua murid lesnya. Edo membuktikan, seorang wiraswastawan sejati akan selalu tegar, meski jalan menuju sukses tak selalu mulus.

Jika Edo memulai usaha dengan mesin jahit pinjaman, lain halnya dengan pasangan suami-istri Handoko Subali dan Elizabeth Halim. Pemilik dan perancang tas Elizabeth ini menggunakan mesin jahit sendiri pada 1963. Uang modal untuk menjahit didapat dari penjualan lima kotak batu korek api yang dipinjam dari temannya.

Di awal usaha, mereka berdua menghasilkan 3-5 tas travel berbahan plastik. Mereka menyadari, rumah di gang sempit kawasan Jalan Kebon Tangkil, Gardujati, Bandung, tak mendukung penjualan. Handoko lantas mengayuh sepeda kumbangnya, menjajakan tas tanpa merek itu ke beberapa toko di Bandung. Tenyata hasil karya mereka laku keras dan pesanan dari took mulai banyak. Nah, cerita sukses tas Elizabeth berkembang dari sini.

PENGEMBANGAN PRODUK

Jika pembeli sudah kenal dengan produk yang dijual, bukan berarti kerja keras berakhir. Meski jalan usaha sudah terbuka dengan adanya pesanan, rintangan yang dihadapi masih besar. Tapi, dengan keyakinan, kreativitas, dan keuletan, apa pun bisa diatasi.  Kita bisa melihat buktinya dari kisah Edward Forrer (Edo). Berhubung usaha pembuatan sepatu yang digelutinyamasih terbilang kecil, Edo menangani seluruh pekerjaannya. Dari membeli bahan kulit, membuat pola, menjahit, hingga mengantarkannya pada pembeli. Mulanya, pria kelahiran 25 Oktober 1966 ini hanya mendapat order lima pasang sepatu dalam seminggu. Tapi jumlahnya mulai merangkak menjadi lima pasang dalam sehari.

Kewalahan, ia pun mencari tenaga tambahan. Tahun 1992, toko kecil ‘’Edward Forrer’’ dibuka di Gang Saad, Bandung, dengan 16 perajin sepatu dan dua pegawai toko. Meskipun tokonya  sudah menyediakan beragam sepatu pria dan wanita, Edo masih menerima pesanan. Dengan begitu, ia bisa mengetahui model sepatu yang sedang digemari masyarakat. Dalam beberapa tahun, Edward Forrer semakin terkenal. Wisatawan yang datang ke Bandung, jika ingin berbelanja sepatu, selalu menyempatkan mampir ke gerai Edo. Penjualan Edward Forrer pun melesat.

Kisah industri tas Elizabeth tidak jauh berbeda. Dari hanya memproduksi tas travel, Handoko mengembangkan produknya ke tas sekolah, tas kantor, tas wanita, tas anak-anak, hingga dompet kosmetik. Elizabeth didaftarkan sebagai merek dagang tahun 1968 pada Ditjen Hak Cipta, Paten, dan Merek Departemen Hukum dan HAM. Itu pun setelah pria bernama asli Lie Koen Poe ini yakin produknya disukai masyarakat.

Keyakinan Handoko tak meleset. Tahun 1975, karena pesanan terus berdatangan, ia pun menggandeng para perajin tas di sekitarnya. Handoko memberi mereka modal berupa satu mesin jahit, bahan tas, desain, dan model untuk dikerjakan di rumah masing-masing. Pembayaran dilakukan sesuai  dengan kesepakatan. Hasilnya, tujuh tahun kemudian, Handoko dan Elizabeth keluar dari gang sempit dan membangun sebuah gerai di Jalan Otto Iskandarinata.  Berlanjut dengan gerai kedua di Jalan Cihampelas pada 1996. Setahun kemudian, Handoko membangun gerai berlantai lima di Jalan Ibu Inggit Garnasih. Toko inilah menjadi satu-satunyatoko khusus tas terbesar di Bandung.

Lain lagi dengan cerita perusahaan Danar Hadi. Pada 1975, PT Batik Danar Hadi mulai menggarap pasar garmen. Kain batik diolah menjadi pakaian siap pakai, bekerja sama dengan Studio I. Sejak tahun itu, Danar Hadi menjelma menjadi industri batik yang lengkap. Mulai pemintalan benang hingga industri  garmen. Pada 1996, anak H. Santosa Doellah yang kedua, Diana Kusuma Dewati Santosa, mengambil alih tampuk pimpinan perusahaan. Dalam kurun waktu 12 tahun, sarjana ekonomi lulusan Universitas Trisakti itu berhasil membawa Danar Hadi memasuki pasar Amerika dengan manajemen modern.

Proyek baru Diana, antara lain, menyuplai batik untuk Robert Kaufman, pemasok terbesar quilt market di Amerika. Quilt merupakan seni menyatukan bahan perca menjadi penutup tempat tidur atau sarang bantal. Sekalipun begitu, Direktur Pelaksana PT Danar Hadi itu tak melupakan lini utama bisnis keluarga, yakni tekstil dan garmen batik. Untuk pengembangan dua sektor tersebut, ia mempekerjakan enam desainer. ‘’Tantangan terbesar adalah divisi garmen perempuan karena fashion cepat berubah,’’ tutur Diana.

MEMPERTAHANKAN SUKSES BISNIS

Setelah berhasil membuka beberapa gerai/toko, langkah selanjutnya adalah mempertahankan sukses yang sudah diraih. Ada banyak cara untuk melakukannya. Salah satu langkah yang  bisa diambil adalah dengan sistem waralaba. Pada awal 2005, Edo mulai menggunakan sistem waralaba pada perusahaan sepatunya. Dengan model bisnis seperti ini, gerai Edward Forrer berkembang kian pesat hingga Kuala Lumpur dan Sydney.

Di sisi lain, usaha keluarga seperti industri tas Elizabeth dan perusahaan batik Danar Hadi masih belum beralih pada konsep waralaba. Diana selaku pimpinan Danar Hadi sedang mematangkan konsep tersebut. Pada saat ini, sang ayah masih belum menyetujui. Namun, jika saatnya tiba, Diana akan menelurkan konsep waralaba yang cocok untuk Danar Hadi.

Pasangan Handoko dan Elizabeth dari tas Elizabeth lebih memilih menyiapkan generasi penerus. Lima anaknya, dua putri dan tiga putra, dididik di bidang ekonomi dan bisnis di Amerika Serikat. Mereka sekarang mulai berperan aktif mengelola bisnis industri tas Elizabeth. Menangani manajemen, desain, pemasaran, hingga pengembangan sumber daya manusia. Mereka pula yang kemudian mendorong Elizabeth maju dan berkembang. ‘’Kreativitas pulalah yang membuat bisnis ini bertahan,’’ ujar Elizabeth, seperti ditirukan Dinny Nurhayati, Public Relations Elizabeth.

Sumber: Gatra dan tulisan lain yang terkait