HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

INFO PASAR EDISI 1 2006

China menanti emas hitam

Oleh: Djoko Agung Rahardjo

 

foto dok GATRA

Pesatnya industri di Cina mendorong kebutuhan pasokan energi yang tinggi. Mampukah Indonesia bersaing dan memanfaatkan peluang ini?

 

INDUSTRI di negara “Tembok Besar”, Cina, berkembang sangat pesat. Tengoklah Provinsi Guangdong, Chang Chun, Tianjin, Shanghai, dan kota Dalian serta Suzhou. Di sana terserak industri otomotif, manufaktur, tekstil, kertas, kapal dan lain-lain. Untuk menunjang kelangsungan industri-nya, tentunya Cina membutuhkan energi yang besar. Selain menggunakan minyak bumi, gas, tenaga air, dan nuklir, juga membutuhkan emas hitam batu bara dalam jumlah besar.

 

Berdasarkan catatan Yuliana Bahar, staf Konsulat Jenderal RI di Guangzhou, nilai impor batu bara Cina pada tahun lalu mencapai US$ 1,381.825 juta dan hanya mencakup 0,21% dari total nilai impornya dari dunia yang mencapai US$ 660,221.766 juta. Namun nilai dan persentasenya terhadap total impor Cina dari dunia selama tiga tahun belakangan ini terus meningkat dari 0,09% menjadi 0,16% dan terakhir naik lagi menjadi 0,21%.

 

Meskipun harga batu bara rata-rata per kilo nya sedikit tidak stabil (berkisar $0.04 hingga $0.05), namun kuantitas batu bara yang diimpor Cina selama tiga tahun terakhir naik pesat. Di tahun 2003 jumlah impor batu bara Cina sebesar 11 juta Kg, di tahun 2004 naik drastis 78% atau menjadi 18.5 juta kg dan di tahun 2005 naik lagi 40,50% menjadi 26 juta kg.

 

Hingga 2003, Australia merupakan pemasok batu bara utama Cina (lebih dari 50%). Namun, sejak 2004, posisinya diambil alih Vietnam, yang jumlah pasokannya pada 2005 naik hingga 65% atau mencapai 10 juta Kg atau mencakup hampir 40% dari total pasokan batu bara ke Cina. Selain batu bara Vietnam harganya jauh lebih murah atau $0.04/kg dibandingkan batu bara Australia $0.09/Kg, jarak Vietnam yang sangat dekat dengan Cina merupakan faktor kunci mengapa pasokan batu bara Vietnam menembus dominasi Australia.

 

Selain Australia dan Vietnam, Korea Utara dan Mongolia juga merupakan pemasok batu bara ketiga dan keempat terbesar ke Cina. Indonesia pada 2005 lalu merupakan pemasok kelima terbesar dengan jumlah ekspornya mencapai 2 juta kg atau naik 82.5% dibandingkan tahun 2004. Nilai impor Cina atas batu bara Indonesia di tahun 2005 juga naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2004 atau hingga mencapai $100,42 juta. Namun pasokan batu bara dari Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 9% saja dari total pasokan batu bara dunia ke Cina. Akan tetapi kenaikan kuantitas dan nilai pasokan batu bara Indonesia ke Cina selama 3 tahun ini menunjukkan bahwa batu bara merupakan salah satu komoditi Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke Cina.

 

Xiamen International Trade Group Corp Ltd, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan luar negeri di Provinsi Fujian dan diakui oleh Kementerian Perdagangan Cina, ingin mengimpor dan menjalin kerja sama dengan para eksportir batu bara Indonesia. Keinginan perusahaan Cina untuk mengimpor batu bara Indonesia merupakan peluang bagi para pengusaha Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan merebut pasar di Cina.

 

Khusus untuk Fujian, nilai impor batu bara selama tiga tiga tahun berturut-turut Menurut Mr. Chi Weizhong, Vice Manager of Energy Department Xiamen International Trade Group Corp Ltd, terus mengalami kenaikan. Dari $30 juta pada 2003 naik hingga 50% pada tahun 2004, sehingga mencapai US$ 44.968 juta. Setahun kemudian naik lagi 45.8% atau setara dengan US$ 65.561 juta. Dengan kata lain, nilai impor batu bara Fujian merupakan 4,74% dari total nilai impor batu bara Cina di tahun 2005. Kenaikan kebutuhan pasokan batu bara khususnya terjadi di kota Xiamen yang juga merupakan pusat industri di Provinsi Fujian. Kuantitas dan nilai impor batu baranya terus meningkat se-lama empat tahun terakhir. Harga rata-rata per kilogram pun terus naik dan relatif lebih tinggi dari harga rata-rata nasional di Cina.