|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
foto dok GATRA
INDUSTRI di negara “Tembok Besar”, Cina, berkembang sangat pesat. Tengoklah Provinsi Guangdong, Chang Chun, Tianjin, Shanghai, dan kota Dalian serta Suzhou. Di sana terserak industri otomotif, manufaktur, tekstil, kertas, kapal dan lain-lain. Untuk menunjang kelangsungan industri-nya, tentunya Cina membutuhkan energi yang besar. Selain menggunakan minyak bumi, gas, tenaga air, dan nuklir, juga membutuhkan emas hitam batu bara dalam jumlah besar.
Berdasarkan catatan Yuliana Bahar, staf Konsulat Jenderal RI di Guangzhou, nilai impor batu bara Cina pada tahun lalu mencapai US$ 1,381.825 juta dan hanya mencakup 0,21% dari total nilai impornya dari dunia yang mencapai US$ 660,221.766 juta. Namun nilai dan persentasenya terhadap total impor Cina dari dunia selama tiga tahun belakangan ini terus meningkat dari 0,09% menjadi 0,16% dan terakhir naik lagi menjadi 0,21%.
Meskipun harga batu bara rata-rata per kilo nya sedikit tidak stabil (berkisar $0.04 hingga $0.05), namun kuantitas batu bara yang diimpor Cina selama tiga tahun terakhir naik pesat. Di tahun 2003 jumlah impor batu bara Cina sebesar 11 juta Kg, di tahun 2004 naik drastis 78% atau menjadi 18.5 juta kg dan di tahun 2005 naik lagi 40,50% menjadi 26 juta kg.
Hingga 2003, Australia merupakan pemasok batu bara utama Cina (lebih dari 50%). Namun, sejak 2004, posisinya diambil alih Vietnam, yang jumlah pasokannya pada 2005 naik hingga 65% atau mencapai 10 juta Kg atau mencakup hampir 40% dari total pasokan batu bara ke Cina. Selain batu bara Vietnam harganya jauh lebih murah atau $0.04/kg dibandingkan batu bara Australia $0.09/Kg, jarak Vietnam yang sangat dekat dengan Cina merupakan faktor kunci mengapa pasokan batu bara Vietnam menembus dominasi Australia.
Xiamen International Trade Group Corp Ltd, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan luar negeri di Provinsi Fujian dan diakui oleh Kementerian Perdagangan Cina, ingin mengimpor dan menjalin kerja sama dengan para eksportir batu bara Indonesia. Keinginan perusahaan Cina untuk mengimpor batu bara Indonesia merupakan peluang bagi para pengusaha Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan merebut pasar di Cina.
Khusus untuk Fujian, nilai impor batu bara
selama tiga tiga tahun berturut-turut Menurut Mr. Chi Weizhong, Vice Manager
of Energy Department Xiamen International Trade Group Corp Ltd, terus
mengalami kenaikan. Dari $30 juta pada 2003 naik hingga 50% pada tahun 2004,
sehingga mencapai US$ 44.968 juta. Setahun kemudian naik lagi 45.8% atau
setara dengan US$ 65.561 juta. Dengan kata lain, nilai impor batu bara
Fujian merupakan 4,74% dari total nilai impor batu bara Cina di tahun 2005.
Kenaikan kebutuhan pasokan batu bara khususnya terjadi di kota Xiamen yang
juga merupakan pusat industri di Provinsi Fujian. Kuantitas dan nilai impor
batu baranya terus meningkat se-lama empat tahun terakhir. Harga rata-rata
per kilogram pun terus naik dan relatif lebih tinggi dari harga rata-rata
nasional di Cina.
|