|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Afrika memang kadung dicap sebagai benua hitam, kelam, dan mungkin tidak akan pernah menjadi putih. Stereotipe ini telah berurat berakar di benak anak manusia yang hidup pada masa ini. Padahal, tidak seluruhnya potret itu benar. Kini Afrika menyemaikan harapan dan impian. Hampir seluruh negara di benua tersebut telah melakukan reformasi ekonomi. Para pemimpin negara-negara Afrika telah menyatukan tekad memperbaiki nasib 700 jutaan penduduknya melalui kerangka kerja sama NEPAD (New Partnership for Africa Development).
Berbagai langkah dan kebijakan positif ke arah liberalisasi telah dilakukan hampir seluruh negara di kawasan itu. Tujuannya, menarik investasi dan perdagangan yang secara langsung membuka pasar potensial bagi berbagai macam produk. Mata uang di banyak negara Afrika telah diliberalisasi, tarif impor sekian banyak produk telah diturunkan, perbankan mulai diperbaiki. Ekonomi pun tumbuh dengan rata-rata 4% per tahun di seluruh negara di Afrika.
Mata dunia perlahan terbuka. Kalangan bisnis dari berbagai negara, terutama negara-negara Timur Tengah (Uni Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi, dan lain-lain), Eropa (Inggris, Prancis, dan lain-lain), dan juga Asia (Cina, Jepang, Malaysia, Indonesia, India, dan lain-lain) telah mulai melakukan perdagangan berbagai jenis produk di beberapa negara Afrika (Afrika Selatan, Mesir, Nigeria, Kenya, Senegal, Tanzania, Botswana, dan lain-lain).
Di sektor swasta, berbagai perusahaan besar ataupun kecil mulai mencoba peruntungannya di Afrika. Banyak perusahaan MNC seperti BP, BAT, Citigroup, GlaxoSmithKline, Marks&Spencer Microsoft, Unilever, dan masih banyak lagi bahkan telah memulai kerja sama dalam bentuk partnership dengan berbagai kalangan pemerintahan negaranegara Afrika demi mempermudah akses pasar dan meringankanthe cost of doing business di Afrika.
Para analis perdagangan dunia pada umumnya sepakat, Afrika adalah benua yang sangat potensial bagi bisnis apa pun dari seluruh dunia. Namun secara khusus mereka menyarankan, untuk sukses berbisnis di Afrika harus menemukan celah (niche) pasar spesifik. Alasannya, begitu banyak pemain dari berbagai negara dengan beragam skala usaha untuk berbagai jenis produk mulai masuk ke Afrika. inilah yang membuat UKM memiliki peluang sangat besar di Afrika. Fokus perhatian dapat ditujukan kepada beberapa negara di kawasan Maghribi seperti Mauritania, Tunisia, Mesir, Libya, Aljazair, Maroko, Nigeria, dan lain-lain. Selanjutnya ke bagian paling selatan dan timur seperti Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Kenya, Tanzania, dan Mozambique. Kemuadian negara-negara di bagian barat seperti Pantai Gading, Liberia, Burkina Faso, dan Ghana. Negara-negara ini pada umumnya telah memiliki infrastruktur. Tingkat perekonomiannya jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara di bagian Sub-Sahara Afrika seperti Rwanda, Burundi, dan Chad. Afrika Selatan dan Botswana saja telah memiliki pendapatan per kapita yang tinggi bahkan melebihi Indonesia. Pendapatan per kapita penduduk Afrika Selatan ialah US$ 8.800, sedangkan Botswana US$ 6.000.
Banyak negara di Afrika membutuhkan produk-produk pertanian dan olahannya, seperti tepung terigu, biskuit, serta makanan dan minuman kaleng. Mereka juga membutuhkan dalam jumlah yang signifikan berbagai produk tekstil dan garmen, minyak sayur, furnitur, barang-barang elektronik danhome appliances, peralatan kesehatan dan rumah sakit, komputer, dan peralatan penunjangnya, mobil dan berbagai jenis suku cadangnya termasuk pelumas, ban, aki, dan lain sebagainya, produk-produk plastik dan kemasan, peralatan kosmetik dan parfum bahkan sampai peralatan kantor (stationeries) dan produkproduk telekomunikasi seperti pesawat telepon, telepon genggam, dan mesin-mesin faksimili.
Dukungan Pemerintah Indonesia sebetulnya sangat besar untuk menjalin hubungan perdagangan dengan negara-negara Afrika. Departemen Perdagangan telah menggariskan kebijakan perdagangan Indonesia ke depan salah satunya membidik potensi pasar Afrika. Sasaran yang ingin dicapai ialah pembukaan akses pasar bagi produkproduk Indonesia, peningkatan kerja sama ekonomi yang komplemen dan sinergis, menjadikan satu atau beberapa negara Afrika sebagai pintu gerbang ke kawasan Afrika secara keseluruhan, memfasilitisi perdagangan dan beraliansi dengan negara-negara Afrika dalam fora internasional.
Usaha-usaha pemerintah dalam meningkatkan perdagangan dengan negara-negara Afrika ini tercermin dalam peningkatan misi dan pameran dagang ke negara-negara Afrika, dan melakukan countertrade. Pemerintah juga memfasilitasi pembukaan kantorkantor ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di negara-negara Afrika serta merintis pembukaan cabang-cabang bank devisa di negara tersebut untuk mempermudah pengaturan pembayaran. Pemerintah juga menjajagi upaya pembentukan free trade area ataueconomic partnership dengan negara-negara Afrika seperti dengan Afrika Selatan dan Mesir.
Tak salah memang jika para pengusaha UKM Indonesia mulai membidik Afrika
sebagai salah satu pasar alternatif produk-produk UKM Indonesia. Namun
potensi pasar yang demikian besar harus segera mulai digarap mengingat
semakin banyak pemain yang terjun ke sana. Jika tidak sekarang kapan lagi?
|