|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 April, 2009
|
Celah bisnis di Ethiopia Oleh : Yovanka Siahainenia
Dalam krisis ekonomi global saat ini, Ethiopia masih mencatat peningkatan nilai ekspor serta investasi asing. Fasilitas khusus yang dimiliki Ethiopia bagi akses pasar ke Eropa dan Amerika, membuat para investor asing tertarik menanamkan modal di negara ini. Ketika mendengar nama Ethiopia, yang terlintas di benak kita adalah sebuah negara miskin yang padat penduduknya, sering tertimpa bencana kekeringan, kelaparan dan penyakit menular. Namun citra yang melekat padanya itu tidak menghalangi negeri berpenduduk terbanyak kedua di benua Afrika ini memacu pertumbuhan ekonominya.
Ekonomi Ethiopia Dalam kurun waktu lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Ethiopia mencapai angka yang cukup tinggi yaitu 11% pertahun. Disamping itu, arus investasi asing juga semakin deras dengan peningkatan sebesar 35% setiap tahun. Ada sebuah data yang lebih mencengangkan yaitu laporan Bank Dunia mengenai Doing Business Index 2009 yang menyatakan bahwa Ethiopia menduduki peringkat ke-116 sebagai negara dengan iklim ternyaman untuk berbisnis. Angka itu mungkin terlihat besar dan peringkatnya jauh dibawah. Tapi lihatlah negara besar yang mungkin citranya lebih “bersih” seperti Brazil, Rusia dan India, mereka berada diperingkat jauh dibawah Ethiopia! Apa yang menjadi daya tarik bagi para investor untuk menanamkan fulusnya di negeri yang gersang ini? Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi serta berbagai kebijakan pemerintah yang makin memperkuat iklim kondusif bagi dunia usaha telah meningkatkan citra Ethiopia sebagai negara berpotensi ekonomi besar. Mitra dagang tradisional Ethiopia seperti negara-negara Eropa dan Amerika makin memperlebar jaring usahanya di negara itu. Perdagangan Ethiopia dengan negara-negara mitra non tradisional seperti negara-negara Timur Tengah, RRC, Turki dan India juga mengalami kemajuan besar. Perkembangan sektor swasta yang pesat merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi negara Afrika itu. Selain itu, ada faktor lain yang menarik para pengusaha asing untuk berinvestasi di negara ini. Ethiopia memiliki akses khusus ke pasar ke Eropa dan Amerika, seperti bebas tariff, bebas kuota, perlakuan istimewa, dan insentif lainnya untuk produk Ethiopia. Amerika Serikat memberikan fasilitas AGOA (African Growth and Opportunity Act) dan Uni Eropa juga memberikan fasilitas yang sama melalui program EBA (Everything But Arms). Hal ini merupakan pertimbangan penting bagi para investor asing. Apalagi upah buruh di Ethiopia terhitung murah. Dengan stempel Made in Ethiopia maka produk milik investor asing itu akan menikmati fasilitas khusus di pasar Eropa dan Amerika. Ethiopia juga dapat menjadi gerbang menuju pasar Afrika lainnya. Dengan keanggotaannya pada COMESA (Common Market for Eastern and Southern Africa) Ethiopia juga mempunyai akses untuk mendapatkan peluang pasar di negara-negara Afrika barat dan selatan.
Peluang Indonesia Hingga saat ini, ekspor utama Ethiopia adalah kopi, kulit dan produk kulit, oilseeds, kacang-kacangan (pulses), ternak, buah-buahan, sayuran, bahan pangan, gula, chat, daging beku dan daging kaleng, kapas, produk minyak bumi serta minyak lebah. Sedangkan kebutuhan impor utama Ethiopia adalah bahan makanan, ternak, minuman, tambakau, minyak mentah, produk minyak, bahan kimia, pupuk, produk farmasi/obat-obatan, sabun, produk karet, kertas/produk kertas, tekstil, pakaian, gelas/glassware, logam/produk logam, mesin-mesin, kendaraan bermotor, barang-barang elektronik serta perlengkapan telekomunikasi. Banyak produk-produk Indonesia yang telah beredar dan dikenal luas di pasaran Ethiopia karena harga dan mutu yang baik, seperti garmen, batu baterai, kertas dan produk kertas, bahan kimia, kertas tisu, baterai kendaraan, sabun mandi, sabun cuci, glassware, benang, furniture, barang-barang plastik, makanan, rak tv, dll. Produk Indonesia lainnya yang saat ini dicari oleh pengusaha Ethiopia adalah minyak goreng dan kertas. Produk kertas Indonesia diakui memiliki kualitas yang terbaik dan harga yang cukup murah di Ethiopia. Sedangkan untuk minyakk goreng, hal yang sangat menguntungkan adalah telah diberlakukannya fasilitas bebas pajak impor atas minyak goreng. Namun, sebagian dari produk-produk Indonesia itu diimpor melalui negara ketiga yaitu Singapura, RRC, Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia. Kondisi telah menarik minat para pedagang Ethiopia untuk mengimpor langsung dari Indonesia. Hal ini jelas akan berdampak pada penurunan biaya pengiriman dan pesanan dapat tiba lebih cepat. Tingginya minat pengusaha Ethiopia pada produk Indonesia terlihat pada banyaknya permintaan terhadap data produk Indonesia yang diterima oleh Kedutaan Besa RI di Addis Ababa. Jumlah pengusaha negara ini yang datang mengunjungi berbagai pameran dagang Indonesia terutama Pameran Poduk Ekspor terlihat meningkat setiap tahun. Kalangan usaha Indonesia yang ingin mencoba pasar Ethiopia dan berencana melancong ke negeri Afrika itu tidak perlu khawatir mengenai transportasi. Terdapat sejumlah penerbangan yang siap mengantarkan mereka langsung ke jantung Afrika itu. Diantaranya adalah Saudi Airlines dan Ethiopian Airlines. Semoga beruntung...
|