|
Edisi VII Desember 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 18 Desember, 2007
|
KILAS balik sepanjang perjalanan tahun 2007 tanah air tercinta kita dipenuhi dengan awan kelabu. Kehidupan dalam satu tahun terakhir ini memang terasa sedikit agak mengerikan. Betapa tidak, bencana alam telah merambah 4 (empat) ranah sumber kehidupan alam seisinya, yaitu air (tsunami/banjir), api (kebakaran/ gunung meletus), udara (puting beliung) dan tanah (longsor/gempa bumi). Hebatnya bencana alam dan musibah lain telah menimbulkan korban jiwa manusia dan kerugian harta benda yang begitu banyak. Silih berganti dari satu provinsi ke provinsi lain. Dari satu pulau ke pulau lain, seolaholah tak ada hentinya. Seperti efek domino saja. Semuanya bikin bulu kuduk kita merinding. Apalagi ditambah deretan kecelakaan dari moda transpotasi juga semakin menakutkan kita bepergian. Nyawa begitu mudah melayang. Tidak ada jaminan keselamatan. Pesawat hilang dan terbakar. Salah satu perusahaan penerbangan kita dilarang terbang di wilayah UE. Naik kapal laut juga tenggelam. Naik kereta api kalau tidak anjlok, ya terguling. Belum lagi tingkat kecelakaan mobil dan motor. Tiap tahun jumlah korban yang mati maupun luka-luka menunjukkan tren grafik meningkat. Yang selamat dalam perjalanan tidak luput dari stress menghadapi situasi lalu lintas Jakarta. Kemacetan semakin merata dan meluas. Antrean mobil seperti ular naga panjangnya. Menghadapi semua bencana alam itu.
Dari kacamata agamis, bencana alam adalah Sunatullah, hukum alam yang sudah ditentukan Tuhan untuk semua kehidupan di dunia termasuk manusia dan bencana alam. Bencana yang terjadi diluar kendali manusia disebut sebagai musibah. Sedangkan fasad merupakan bencana yang terjadi karena kesalahan manusia (human error). Atau terdapat kontribusi tangan tangan manusia melahirkan suatu bencana. Bahkan para ulama menyebutkan fasad terjadi karena maksiat dan dosa-dosa manusia. Kita semua sudah mafhum melalui media covered yang luas bahwa menurut kajian ilmiah, para geolog dan geofisikawan bahwa gempa adalah suatu proses alamiah pelepasan energi dari reaktivasi sesar dan subduksi (tabrakan) lempengan yang bergerak. Berkah sekaligus kesialan, posisi geografis Indonesia yang terletak di ring of fire pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Aurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Musibah dalam wujud bencana alam atau berbagai bentuk kecelakaan memang sering berada di luar jangkauan pemikiran manusia biasa. Komunitas Jawa yang masih tradisional sulit memisahkan mitos dalam kehidupan mereka. Dasar kepercayaan Jawa adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan hidup. Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu Jagat Ageng (makrokosmos) dan Jagat Alit (mikrokosmos). Jagat Ageng adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung kekuatan supranatural dan penuh dengan hal-hal yang bersifat misterius. Sedangkan Jagat Alit adalah sikap dan pandangan hidup terhadap dunia nyata. Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan Jagat Ageng (makrokosmos) dan Jagat Alit (mikrokosmos). Oleh karena itu, eksistensi seorang pemimpin tak hanya cukup diterima oleh komunitas manusia biasa. Namun juga harus diterima oleh alam beserta makhluk gaibnya. Pemimpin harus mampu menciptakan rasa aman bagi rakyatnya. Menjauhkan dari bencana. Meminimalis korban jiwa manusia dan kerugian harta benda. Karena itu, pengaitan korelasi antara bencana alam dengan ”kepemimpinan nasional” ini jelas tidak bisa diterima "akal sehat", termasuk usulan agar pemerintah diruwat. Namun sebagian Komunitas Jawa menganggap peristiwa bencana alam dan musibah lain tidak lepas dari sisi penerawangan kosmologis. Bahkan sebagian dari mereka benar-benar percaya atas kaitan antara peristiwa alam dan kondisi masyarakat, termasuk dalam kaitan dengan kepemimpinan yang ada. Analisis mitologis yang berkembang di masyarakat mengatakan pemerintah didukung rakyat, tetapi kurang didukung alam. Apapun tabir dibalik tanda-tanda alam tersebut baik dalam bentuk musibah maupun fasad. Setiap insan manusia yang beriman kiranya wajib introspeksi. Sekaligus melakukan koreksi atas perilaku kita selama ini terhadap alam yang telah memberikan berkah melimpah. Nampaknya alam tidak lagi ramah sebagai tempat kehidupan manusia. Karena manusia, dengan dalih mengatasnamakan ”pembangunan” telah memperlakukan alam semena-mena. Meminjam syair lagu Ebiet G Ade ”....mungkin Tuhan sudah mulai bosan melihat tingkah kita........”. Solusinya bukan ruwatan nasional untuk menghindari goro-goro (bencana/ malapetaka). Tetapi agar para Pimimpin Nasional melaksanakan secara konsisten program pembangunan yang memihak rakyat kecil (pro poor). Pengangguran dan kemiskinan secara gradual tereliminasi. Harga kebutuhan pokok terjangkau, termasuk beras murah. Nasib rakyat tidak terombang- ambing oleh fluktuasi harga segala macam minyak goreng, minyak tanah maupun BBM. Dalam konteks ini, keberpihakan kebijakan pembangunan terhadap rakyat kecil sudah dikenal sejak jaman kerajaan Mataram dengan istilah ”Wa-Pitu’ (7 W). Secara kontekstual 7-W tersebut masih relevan dengan tuntutan aspirasi rakyat saat ini, yaitu Wareg (pangan), Waras (kesehatan), Wasis (pendidikan), Wastra (sandang), Waskita (kerohanian), Wisma (papan), dan Wicaksana (bijaksana). Pada akhirnya dalam menghadapi cobaan, musibah dan bencana lain, kita serahkan semua kepada Tuhan (”tawakkal ’alallaah). Karena hanya Tuhan yang lebih mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, wallahu a’lam bisshaaab.
|