HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VII Desember 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 24 December, 2007

 

 

Locations of visitors to this page

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI VII 2007

Banyak jalan menuju Malaysia

Oleh: Vahd Mulachela

 

Malaysia berambisi jadi pusat makanan halal internasional. Kendalanya, negeri itu tak punya pasokan bahan mentah yang memadai. Bisa dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia.

 

Malaysia. Nama ini terasa dekat, sekaligus "mengagumkan". Paling tidak itulah yang dirasakan sebagian rakyat Indonesia. Dekat karena ada ikatan sejarah Malaysia dan Indonesia memiliki hubungan khusus layaknya saudara.

 

Namun, ”saudara” serumpun ini kerap terjerembab dalam kon-frontasi dan konflik. Diawali kala Presiden Soekarno meneriakkan: “Ganyang Malaysia!” hingga demo anti-Malaysia dalam kasus Ambalat di Jakarta, 2007. Itulah potret nyata kedua serumpun ini.

 

Bagi Malaysia, Indonesia ibarat saudara tua. Orang Malaysia mengaku banyak belajar dari saudara tuanya itu. Guru-guru dari Indonesia berperan besar pada awal pembangunan Malaysia pada 1950-an. Petronas juga menimba ilmu ke Pertamina. Tapi, itu semua, hanya kisah masa lalu. Malaysia kini melesat jauh, menjadi top 20 negara dengan neraca perdagangan besar dunia.

 

Sementara Indonesia, masih berkubang dalam  jeratan krisis. Anak-anak muda Indonesia malah menimba ilmu dari Malaysia. Begitu pula dengan Pertamina yang nampak renta, sementara Petronas makin melejit, selincah mobil  Sauber Petronas F-1. Strategi Malaysia menjadikan negara tujuan impor sekaligus tujuan ekspor

 

Apa resep Malaysia hingga mampu mengakumulasi potensinya?

Salah satu faktor terdongkraknya ekspor Negeri Jiran ini adalah penerapan kebijakan investasi asing berorientasi ekspor. Efeknya, negeri para datuk itu kini masuk ke jaringan kegiatan multinasional, selain AS, Jepang, Singapura, Korea Selatan dan Eropa. Beberapa MNC raksasa yang tumbuh subur di Malaysia, antara lain, Intel, Dell, HP, Compaq, NEC, Western Digital, Mitsubishi, Fujitsu, Samsung, BenQ, Alcatel, Chunghwa, Motorola, Globetronics, Sony, Sanyo, Yamaha, Panasonic, JVC, Seagate, Dyson, Hitachi, dan Flextronics.

 

Bukan hanya itu, ”gula-gula” terus ditebar pemerintahan PM Abdullah Badawi guna menarik minat investor asing, khu-susnya yang berori-entasi ekspor. Misal-nya, investor diberi fasilitas insentif fiscal (tax exemption; sing-le and double dedu-cation; financial incentives) di sam-ping insentif ekspor bagi foreign direct investment dan do-mestic investment. Jangan heran jika pertumbuhan ekonomi Malaysia terus meningkat. Misalnya, pada 2006 pertumbuhan ekonomi  (GDP) Malaysia mendekati 6%, dengan keuntungan dagang mencapai US$ 30 milyar. Berbekal grafik positif di atas, Kuala Lumpur tengah menyiapkan strategi ekonomi 2006 – 2010. Pada kurun itu, Malaysia akan menggenjot sumbersumber pertumbuhan baru dan mempercepat transformasi struktural ekonominya.  Salah satu sumber baru yang tengah disiapkan saat ini adalah ”The New Agriculture” (industri pertanian modern dengan produktivitas dan daya saing yang tinggi).

 

Selain itu masih ada industri halal; industri bioteknologi dan nanoteknologi serta peningkatan UKM dalam perekonomian nasional dan perdagangan luar negeri. Khusus bagi UKM, Pemerintah Malaysia memberi berbagai fasilitas guna meningkatkan penguasaan teknologi, modernisasi proses produksi, market knowledge, dan branding agar dapat menembus pasar luar negeri. Beberapa negara penyumbang cukup besar dalam neraca perdagangan Malaysia, antara lain, AS, Singapura, Jepang, China, dan Thailand. Kelima negara ini menyerap lebih dari setengah ekspor Malaysia. Uniknya, negara-negara tersebut sekaligus merupakan pemasok utama dengan pangsa pasar di atas 50%.

 

Apa saja komoditas impor yang diserap Malaysia?

Impor utama Malaysia terdiri dari barang-barang kategori setengah jadi, bahan baku primer untuk kepentingan industri manufaktur serta industri pertanian seperti parts and accessories dan processed industrial supplies. Beberapa diantaranya, antara lain, produk listrik dan elektronik. Volume kedua produk mencapai US$ 56 milyar atau kurang lebih setengah dari total impor Malaysia.

 

Di luar itu, Malaysia  membelanjakan US$ 52 milyar untuk mengimpor 50 produk nonmigas. Indonesia menjadi salah satu pemasok  kebutuhan komoditas primer Malaysia. Seperti kakao, minyak sawit dan kelapa. Selain itu, Negeri Jiran itu juga mengimpor bahan manufaktur, baik yang primer maupun yang olahan. Diantaranya batu bara, briket dan perunggu. Total volume impor lima komoditas utama Indonesia tersebut mencapai US$ 1,37 milyar.

 

Kinerja Perdagangan Indonesia– Malaysia: Siapa Lebih Untung?

Sepanjang 2006, volume perdagangan kedua negara mengalami peningkatan lebih dari 10%. Namun demikian, surplus yang dialami Indonesia cenderung menurun. Bahkan pada  periode Januari–Maret 2007, Indonesia mengalami defisit US$ 46,20 juta. Penurunan kinerja ekspor Indonesia terhadap Malaysia pada periode tersebut dipengaruhi oleh menurunnya volume ekspor Indonesia, baik migas dan nonmigas. Sebaliknya, pada periode yang sama, ekspor Malaysia ke Indonesia meningkat 46,28%.

 

Sedangkan impor Malaysia dari Indonesia merosot 9,24%. Secara keseluruhan, sepanjang 2006 ekspor Malaysia ke Indonesia berada di peringkat ke 12 dengan pangsa pasar 2,53%. Di lain pihak, impor Malaysia dari Indonesia menempati posisi ke sembilan dengan pangsa pasar 3,78 %.

 

Produk yang Disukai Masyarakat Malaysia: Makanan dan Minuman Olahan

 

Pertumbuhan ekonomi selalu mempengaruhi perubahan gaya hidup. Begitu pula di Malaysia. Preferensi konsu-men di kota-kota besar di sana mulai berubah sesuai dengan meningkatnya per-tumbuhan ekonomi, urba-nisasi dan modernisasi. Konsumen pada umumnya membeli makanan di restoran atau berbelanja di conve-nience food atau makanan siap-saji (ready meals) di supermarket, seperti ayam goreng, nugget, sausages, frankfurters dan mie instan.

 

Di Malaysia, industri makanan dan minuman olahan siap-saji juga telah terbagi ke dalam beberapa pengelompokan. Ada ethnic foods, seperti roti paratha, roti canai atau pau beku; ready-to-cook sauces seperti bumbu rendang, kari, dan black paper sauce; functional food, yaitu makanan/minuman yang mengandung tambahan vitamin/mineral, high fiber fruit drinks, aloevera drink; nutritional food, yaitu makanan/minuman yang mengandung ramuan tradisional (seperti pasak bumi, mengkudu, kumis kucing, dan selasih).

 

Tren terkini adalah kesadaran yang semakin meningkat tentang aspek kesehatan, higenitas dan kandungan makanan tersebut. Karena itu, kemasan dan nutritional contents dari produk makanan tersebut sangat diperhatikan para konsumen Malaysia. Bagi yang beragama Islam, aspek halal merupakan elemen sangat penting.

 

Selera Produk Tekstil

Secara umum, pakaian yang digunakan masyarakat Malaysia lebih bersifat konvensional. Misalnya, model baju kurung bagi Muslim Melayu dan ”Punjabi Suit” bagi etnis India. Namun demikian, etnis Tionghoa dan etnis lain, terutama yang masih berusia muda, lebih terbuka pada ”tren global” dengan lebih berkiblat pada fashion Asia Timur seperti Jepang, Hong Kong dan Taiwan.

 

Gairah mode di kalangan muda Malaysia adalah opportunity bagi pelaku bisnis menengah kecil, termasuk di Indonesia. Selama ini tekstil dan produk tekstil Indonesia mampu menembus komunitas perempuan dengan status sosial tinggi seperti Kerabat Kesultanan, istri pejabat tinggi dan menteri. Pada umumnya, bahan dasar yang digemari seperti silk, organdy, lace dan dihiasi bordir, sulam serta bertabur kristal atau semi-precious stone lainnya yang dijahit tangan alias hand made.

 

Sementara untuk produk tekstil seperti peralatan salat, table runner dan keperluan lainnya yang terbuat dari tekstil pada umumnya menggunakan bahan katun halus dengan hiasan bordir. Untuk memburu barang-barang tersebut, biasanya konsumen Malaysia datang langsung ke Indonesia. Ada juga pelaku usaha yang memanfaatkan peluang  ini dengan memasok produk tekstil Indonesia ke Malaysia secara periodik. Lebih teknis lagi, selera perempuan Malaysia secara umum menggemari warna-warna terang. Namun bagi kalangan elite, selera mereka mulai bergeser ke arah warna yang lebih lembut (pastel). Asal tahu saja, bagi para produsen tekstil Indonesia, sebaiknya menghindari memproduksi tekstil dengan warna kuning karena warna tersebut merupakan warna Kesultanan yang dianggap ”sakral”.

 

Jangan Lupa Kemasan yang Menarik

Konsumen di Malaysia sangat memperhatikan desain kemasan produk. Karena itu, kendati barang yang akan diekspor berkualitas tinggi, apabila desain atau kemasan yang digunakan tidak atraktif, kecil kemungkinan diserap konsumen. Khusus untuk produk makanan, minuman dan obat-obatan, pengemasan produk secara modern dan menarik (eye catching) sangatlah penting.

 

Berbagai temuan menunjukkan bahwa wholesaler/retail besar Malaysia sekelas  Giant Hypermarket lebih suka membeli bahan baku dari Indonesia secara curah (bulk), seperti nata de coco, buah atap, dan kemudian melakukan pengemasan, labelling dan bahkan branding. Ini menunjukkan bahwa kemasan memegang peranan penting dalam berbisnis dengan Malaysia.

 

Peluang Bagi Pengusaha Indonesia

Dengan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peluang bagi pengusaha Indonesia untuk menembus pasar Malaysia sangatlah besar. Terutama pada produk makanan dan variannya. Pasalnya, Malaysia tengah berambisi menjadi negara ”pusat makanan halal internasional”. Kendalanya, negeri itu tidak memiliki pasokan bahan mentah yang memadai. Celah ini tentunya dapat dimaksimalkan pelaku usaha Indonesia. Misalnya dalam hal contract farming untuk peternakan sapi, kambing, maupun ikan. Keunggulan Indonesia di bidang ini adalah, selain Indonesia bebas dari penyakit food and mouth disease, ”sertifikat halal” yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia juga telah diakui oleh Malaysia.

 

Sebuah peluang yang terlalu sayang untuk dilewatkan pengusaha Indonesia. Selain karena Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, makanan halal juga cukup menjanjikan, dengan nilai US$ 580 milyar per tahun.