|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 02 April, 2008
|
Buah tidak jatuh jauh dari pohon, begitu kata pepatah. Karena terpesona kepiawaian silat lidah penjaja obat, maka Andri Hadi kini menjabat Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) Deplu. Eh, tidak percaya? ”Dulu sepulang sekolah saya suka berhenti di Pasar Gunungsari, Cirebon, untuk mendengarkan ocehan tukang obat meski tidak pernah membeli” ujarnya sambil terkekeh. Tidak main-main, skill tukang obat sampai mengilhami mantan Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional tahun 1984/1985 ini untuk mendalami kiat-kiat public speaking saat kuliah. Tanpa disadari, ternyata konsep jualan obat dan diplomasi banyak kemiripannya. Sebagai Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, kesehariannya tak pernah jauh-jauh dari upaya penyebaran informasi. ”Akhir-akhir ini saya bersama Dirjen Kerjasama ASEAN, Deplu, sedang mengadakan sosialisasi dan diskusi mengenai Piagam ASEAN (ASEAN Charter) dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, kalangan akademisi serta berbagai media cetak dan elektronik”, jelas lulusan S2 di Monash University, Australia, ini memberi contoh. Untuk mencegah stress di kantor, pria yang menjaga kebugaran dengan treadmill ini selalu berusaha menganggap pekerjaan sebagai hobi. Semua dilakukan dengan senang hati. Motto hidupnya pun diibaratkan seperti filosofi pemain golf. ”Pukul bola sekeras mungkin tanpa melihat hasil pukulan. Keep your eyes stick to the ball. Saya percaya, kerja keras secara otomatis akan menghasilkan sesuatu yang baik pula”, imbuhnya dengan santai menutup pembicaraan dengan AKSES.
------------
Oleh : M. Aji Surya
Orangnya supel, ramah dan banyak senyum, alias gaul abis. Begitu kesan pertama yang sering muncul saat bertemu Amris Hassan, Duta Besar RI untuk Selandia Baru. Selain suka ngejoke dengan bahasa Inggrisnya yang casciscus, ia pandai membagi waktu untuk menyambangi siapa saja yang pernah dikenalnya. Tidak heran, setahun duduk di kursi Dubes di Wellington, kawannya sudah seabreg. Mereka adalah pejabat eksekutif maupun parlemen. ”Pak Dubes kemana-mana sudah jalan sendiri,” aku Hermono, staf senior bidang politik KBRI. Memang, menghadapi pekerjaan tipikal diplomasi bukan barang baru bagi sang Dubes. Kegiatan negosiasi, tarik ulur dan take and give menjadi makanan harian semasa menjadi politisi papan atas salah satu partai terbesar di Indonesia. Selain itu, sebagai politisi, iapun wajib membina hubungan baik dengan konstituen maupun para pejabat. Tidak kurang, banyak menteri menjadi karibnya. Berbekal pengalamannya itu, Amris Hassan merasa tidak berat manakala harus berubah haluan menjadi seorang diplomat. Bulan-bulan pertama, stafnya masih sibuk mengatur perkenalan dengan berbagai pejabat setempat, setelah itu semuanya dilakukan sendiri. Masalahpun menjadi ringan karena jaringan lamanya masih eksis. ”Kalau perlu, saya biasa angkat telepon dengan beberapa pejabat tinggi pemerintah di Jakarta yang pernah menjadi rekan dan mitra di DPR agar keputusan bisa diambil lebih cepat,” ujar putra mantan Mendikbud Fuad Hassan. Di sisi lain, pria yang mengendalikan usahanya dari jarak jauh ini mengaku perlu adaptasi dengan masalah birokrasi. Meski kini sudah biasa, namun saat mulai dirasakan cukup berat. ”Saya dulu memang tidak biasa menghadapi tumpukan kertas yang butuh disposisi dan tanda tangan. Walapun begitu, ini semua kan dinamika hidup, sehingga saya jalani dengan sepenuh hati,” ujarnya sambil terkekeh.
-------------
Oleh : M. Aji Surya
Bila hidup lagi gonjang-ganjing dan kurang tenang akibat banyak harapan belum terealisir, konsultasilah kepada Muhamad Asruchin, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Deplu. Bukan karena bapak dengan tiga putra ini ahli meramal, tetapi pengalaman hidup menuntunnya pada sebuah kesimpulan bahwa Tuhan itu selalu sayang pada mahluk ciptaan-Nya. Ada doa yang langsung terkabul, ditunda, atau bahkan dialihkan. “Setelah melakukan ikhtiar (usaha maksimal) maka harus diikuti dengan tawakkal,” ujarnya dengan fasih. Menurutnya, banyak rahasia Tuhan yang tidak mudah dipahami makhluknya.
Selain itu, di tengah kekurangan, keberhasilan atau keadaan apapun yang sedang dihadapi, harus diterapkan manajemen diri yang pas. Setiap orang perlu mendongak ke “atas” biar tetap memiliki motivasi hidup, ke “samping” agar tetap toleran, dan ke “bawah” untuk tetap bisa bersyukur. “Ke atas, samping dan bawah harus dilakukan secara seimbang. Ini akan membuat hidup kita tidak mudah sombong atau sebaliknya putus asa, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan,” tambahnya mantap. Meski dilahirkan di kota santri, pria kelahiran Bojonegoro ini mengaku belum banyak tertarik dengan urusan agama sampai suatu ketika mendapat tugas di KJRI Hongkong. Di negeri tirai bambu ini, karena tidak ada stok, Asruchin menjadi kyai dadakan. Sering naik mimbar saat sholat Jumat. Untuk mengasah substansi, terpaksa banyak diskusi dan membaca buku. Rupanya, kebiasaan mulia ini keterusan sampai pria kalem ini bertugas di KBRI Beijing dan terakhir di Kabul. Nah kini, ditengah-tengah kesibukannya mengurus hubungan bilateral, doanya tidak muluk tapi penuh makna: “Semoga Allah SWT memberi jalan bagi keberhasilan anak-anak saya yang juga merupakan hari depan bangsa.” ujarnya datar. Amin.
----------
Oleh : M. Aji Surya
Kalau ketemu pejabat Deplu di Pengadilan Negeri, hampir bisa dipastikan itulah Eddy Poerwana. Direktur Hukum ini memang lain dari yang lain. Pekerjaannya cukup unik: membuat kajian hukum, legal opinion atas berbagai peraturan serta, ya itu tadi, mondar mandir di pengadilan memberikan bantuan hukum bagi Deplu. Tidak jarang, pria bertubuh gempal ini dengan tekun dan sabar menunggu sidang pengadilan yang molor sampai 5 jam. ”Itu sudah seringkali terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,” ujarnya santai. Bila sudah kecapekan di tengah lalu lalang para pencari keadilan, bapak tiga anak itu sering ngeloyor ke warung untuk mencari kesukaannya, teh manis. Minuman yang satu ini bak obat kuat dan makanan supplemen yang memberikan kesegaran tubuh. Tidak heran bila Pak Eddy, begitu sering disapa, sering jadi bahan guyonan. ”Kemajuan dong. Masak di cafe hotel berbintang nyarinya es teh manis melulu,” begitu kawan-kawannya berseloroh. Pergaulannya yang luas dengan masalah pelik yang sering dihadapi, membuatnya senantiasa tegar sekaligus tenang. Karena itu pula, ia ekstra hati-hati dalam melangkah sambil terus berkomunikasi secara transendental. ”Tanpa bantuan yang di atas, kita sulit memenangkan perkara di pengadilan,” ujarnya kepada Akses. Terbukti, beberapa perkara sudah dimenangkan. Karenanya anak buahnya sering berkomentar: ”Pada saat yang sesulit apapun, Bapak tetap convincing.” Belum tahu kali ya, itu semua adalah kombinasi antara penguasaan unsur substansi, ketenangan, transendental, plus teh manis. Namun diakuinya bahwa tugas-tugasnya di Direktorat Hukum tidak mungkin terpenuhi dengan baik tanpa dukungan para staf khususnya tim kuasa hukum seperti Amirudin Pandjaitan, Arvinanto Soeriaatmadja, Nancy, Evita, Rima, Djati, Haryo dan staf lainnya.
|