|
Edisi VII Desember 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 23 December, 2007
|
Apakah Indonesia masih menjadi pasar yang menarik dan potensial bagi investor Malaysia? Apa yang menjadi kendala utama bagi investor Malaysia untuk berinvestasi di Indonesia? Tentu saja. Berdasarkan catatan KBRI Kuala Lumpur, investasi Malaysia di Indonesia untuk tahun 2006 yang mencapai US$ 2,2 milyar telah menempatkan Malaysia sebagai salah satu investor asing terbesar di Indonesia bersama investor asing lainnya seperti Jepang, Korea dan AS. Sebenarnya investasi tersebut masih dapat lebih besar lagi, jika kendala-kendala yang dihadapi dapat diminimalisir. Pada umumnya kendala utama yang dihadapi oleh investor Malaysia adalah masalah klasik seperti prosedur yang berbelit (apalagi investasi di daerah), infrastruktur kurang memadai, ketidakpastian hokum karena banyaknya peraturan yang parahnya saling tumpang tindih, baik di daerah itu sendiri maupun di pusat. Bagaimana bentuk dukungan Malaysia untuk mengembangkan ekspor UKM mereka? Pemerintah Malaysia sangat mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) termasuk untuk melakukan kegiatan ekspor hasil produk mereka, antara lain dengan dibentuknya institusi khusus Small and Medium Industries Development Corporation (SMIDEC). Bantuan yang diberikan antara lain bantuan permodalan (modal awal berbentuk hibah/ grant yang diberikan pada pengusaha UKM yang memenuhi syarat), bantuan pemasaran (produk UKM diberikan kesempatan masuk hypermarket modern seperti Carrefour, Giant). Disamping itu Pemerintah Malaysia juga membantu promosi luar negeri dimana pengusaha UKM diberikan kesempatan mengikuti pameran dagang di luar negeri secara cuma-cuma. Perusahaan UKM pun menikmati pembebasan pajak penghasilan untuk periode waktu tertentu.Mengenai jaringan, diadakan networking dengan lembaga-lembaga pemberdayaan UKM di negara lain. Menurut pendapat Anda, apa produk UKM Indonesia yang paling menarik bagimasyarakat Malaysia? Yang paling menarik bagi masyarakat Malaysia adalah kain bordir, produk tekstil lainnya seperti peralatan sholat, perabotan, aksesoris interior rumah, busana muslim dan perlengkapannya. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh UKM Indonesia untuk dapat bersaing dengan produk UKM Malaysia yang sejenis? Dengan banyaknya produk-produk kompetitor seperti Cina, Vietnam dan Thailand di Malaysia, perlu diambil langkahlangkah seperti harga yang kompetitif, menjaga kualitas, desain yang sesuai selerapasar setempat. Agar penetrasi pasar dapat tercapai sesuai target, para pengambil kebijakan maupun pihak-pihak terkait perlu melakukan koordinasi (market intelligent) dengan perwakilan RI di Malaysia. Bagaimana Anda menggambarkan hubungan perdagangan Indonesia- Malaysia? Sektor-sektor apa saja yang perlu ditingkatkan oleh Indonesia? Bagaimana dengan seKtor UKM? Dalam 5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan hubungan perdagangan yang cukup signifikan. Pada tahun 2006 tercatat neraca perdagangan Indonesia dan Malaysia sebesar US$ 8,9 milyar dengan surplus bagi Indonesia sebesar US$ 0,88 milyar. Namun perlu dicatat, surplus bagi Indonesia tersebut cenderung terus menurun, padahal sebelumnya nilai surplus di atas US$ 1 milyar. Jika kondisi ini tidak diatasi dengan baik, maka diramalkan posisi surplus Indonesia akan berubah menjadi defisit dalam 3 atau 4 tahun mendatang. Mengenai sektor-sektor yang perlu ditingkatkan oleh Indonesia antara lain industri manufaktur khususnya industri elektronika dan industri komponen kendaraan bermotor. Adapun sektor UKM dapat berkompetisi dengan produk UKM Malaysia yang sejenis apabila produk yang dihasilkan dapat bersaing dalam hal harga, kualitas dan desain. Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah TKI terus bertambah, bagaimana gambaran secara umum prestasi TKI di bidang jasa tertentu misalnya Perhotelan, Rumah Tangga dan Perkebunan di Malaysia? Untuk sektor formal seperti pekerja di perhotelan, restoran, rumah sakit dan pabrik relatif tidak terlalu banyak persoalan yang dihadapi, walaupun terdapat beberapa kasus eksploitasi. Sektor formal cukup banyak TKI dan sebagian besar mendapatkan hak-hak mereka. Sementara itu di sektor perladangan dan konstruksi jumlahnya cukup banyak dan perlu mendapat perhatian, karena sektor ini rawan eksploitasi terutama mereka yang datang secara illegal dan telah menimbulkan berbagai persoalan antara lain sulitnya melakukan bargaining mengenai upah.
Persoalan yang muncul seperti dikemukakan di atas, masalah yang paling krusial adalah PRT. Berdasarkan observasi kami, bahwa sebagian besar yang muncul antara lain karena harapan dari kedua belah pihak tidak terpenuhi. Bagi majikan yang mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit rata-rata RM 6000 (sekitar Rp 16.200.000) untuk mendapatkan pembantu merasa mempunyai hak untuk mendapatkan pekerja sesuai kriteria pekerjaannya. Mereka juga mengharapkan PRT tersebut dapat melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka. Sementara itu, bagi PRT yang umumnya diiming-imingi oleh para sponsor atau perusahaan pengerah tenaga kerja akan mendapatkan uang yang besar dengan pekerjaan yang ringan, merasa bahwa apa yang dituntut oleh majikan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Terlebih jika diantara para majikan tersebut bukan saja menuntut pekerjaan yang serba bisa dan serba cepat, namun juga berlaku sewenang-wenang telah membuat para TKI lari dari majikan. Untuk itu, perlu adanya sosialisasi bagi kedua belah pihak mengenai hak dan kewajiban masing-masing. Tentunya PJTKI dan agen pekerja di Malaysia wajib melakukan sosialisasi tersebut. Pada umumnya, banyak pihak melihat TKI hanya sebagai komoditi semata dan tidak mempertimbangkan aspek-aspek lainnya. Apa yang harus dipersiapkan oleh para calon TKI untuk dapat bekerja dengan baik di Malaysia? Yang pasti mereka harus memiliki 3 Siap yaitu siap dokumen, siap skill dan siap mental. Para TKI harus memiliki dokumen secara benar dan hal ini harus melalui prosedur sebagaimana ditetapkan dalam UU no. 39/2004. Sementara itu, skill yang dimiliki harus sesuai dengan formasi dan kebutuhan dan yang terpenting adalah siap mental, karena majikan di Malaysia terdiri dari banyak etnis atau multietnis. Pada gilirannya perbedaan budaya, bahasa dan kepercayaan bisa berpotensi menimbulkan persoalan. Untuk berkiprah dan melebarkan sayap usaha ke negeri Melayu ini dibutuhkan banyak persiapan. Dengan mengenal dan memahami budaya dan kebiasaan, mematuhi peraturan dari negara asal dan Negara yang akan dituju, serta dengan tekad yang kuat, semoga usaha kita akan berhasil dengan baik dan lancar.
Diolah dari berbagai sumber
|
||||||||||||||||||||||||